Jakarta, YukUpdate – Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disebut SBY terdeteksi mengidap kanker prostat. Risiko kematian atau angka mortalitas penderita kanker prostat di Asia tergolong paling rendah dibandingkan benua lainnya.
Kanker prostat merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat dan menyerang segala usia. Penyakit ini kerap menjadi silent killer bagi para pria karena seringkali penderitanya tidak mengalami gejala apa pun. Gejala baru akan dirasakan ketika kanker sudah memasuki stadium akhir.
Dikutip dari Penatalaksanaan Kanker Prostat yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, kanker prostat adalah keganasan tersering dan penyebab kematian karena kanker paling utama pada pria di negara Barat. Pada 2008 menyebabkan 94.000 kematian di Eropa atau lebih dari 28.000 kematian di Amerika pada 2012.
Dalam terbitan tersebut bentuk keganasan prostat yang tersering adalah Adenokarsinoma prostat. Bentuk lain yang jarang adalah sarkoma (0,1-0,2%), karsinoma urotelial (1-4%), limfoma dan leukemia1. Oleh karena itu, terminologi kanker prostat mengacu pada Adenokarsinoma prostat.
Seperti diberitakan sebelumnya, SBY didiagnosis mengidap kanker prostat stadium awal. Informasi itu terungkap dari pernyataan tertulis Ossy Dermawan, staf pribadi SBY yang disebarkan melalui grup Whatsapp yang diterima di Jakarta, Selasa (2/11/2021).
Data di Amerika menunjukkan bahwa lebih dari 90% kanker prostat ditemukan pada stadium awal atau dini dan regional, dengan angka kesintasan (survival rate) lima tahun mendekati 100%. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan 25 tahun lalu, yang hanya mencapai 69%.
Rasio insidensi terhadap mortalitas sebesar 5,3 pada 2000. Angka mortalitas juga berbeda pada tiap negara. Angka tertinggi di Swedia yakni 23 per 100.000 penduduk dan terendah di Asia yakni kurang dari lima per 100.000 penduduk.
Di Asia, insiden kanker prostat rata-rata adalah 7,2 per 100.000 pria per tahun. Di Indonesia, jumlah penderita kanker prostat di tiga RS pusat pendidikan (Jakarta, Surabaya dan Bandung) selama delapan tahun terakhir adalah 1.102 pasien dengan rerata usia 67,18 tahun.
Stadium penyakit tersering saat datang berobat adalah stadium lanjut sebesar 59,3% kasus. Terapi primer yang terbanyak dipilih adalah orkhiektomi sebesar 31,1 %, obat hormonal 182 (18%), prostatektomi radikal 89 (9%), dan radioterapi 63 (6%). Sisanya adalah pemantauan aktif, kemoterapi dan kombinasi. Modalitas diagnostik yang digunakan terutama biopsi 57,9%.
Menurut dokter spesialis urologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) dr Marto Sugiono SpU, kanker prostat perlu diwaspadai karena prevalensi penderitanya di Indonesia cukup tinggi yakni 11 dari 100.000 dan menjadi salah satu penyebab kematian pada pria.
Gejala penyakit ini bisa baru dirasakan ketika kanker sudah memasuki stadium akhir sehingga seringkali kanker prostat disebut sebagai silent killer. Maka itu, penting bagi siapa pun terutama pria untuk lebih berhati-hati terutama jika memiliki faktor risiko tertentu antara lain riwayat keluarga, ras, dan usia.
Berdasarkan buku Penatalaksanaan Kanker Prostat, kanker prostat lebih sering mempengaruhi orang-orang di Afro-Amerika di Amerika dan laki-laki Karibia.
Di Amerika Serikat, ras Afrika memiliki risiko lebih tinggi dari jenis kanker, dibandingkan orang Asia maupun Hispanik.
Disebutkan pula, riwayat keluarga juga turut diwaspadai. Memiliki anggota keluarga dengan karsinoma prostat meningkatkan risiko penyakit. Seorang laki-laki yang memiliki ayah atau saudara laki laki yang terdiagnosa kanker pada usia 50 memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena karsinoma prostat.
Risiko meningkat menjadi tujuh sampai delapan kali lipat lebih tinggi pada laki laki yang memiliki dua atau lebih keluarga yang menderita kanker prostat.
Sumber: BeritaSatu.com
Yuk Update Info Terupdate seputar Berita, Keuangan, Teknologi, Entertaimnet, Olahraga, serta Lifestyle