Tuesday , September 27 2022
Breaking News
Home / Headline / Ini Kronologi Konflik Ukraina-Rusia Sejak Uni Soviet Bubar
Ini Kronologi Konflik Ukraina-Rusia Sejak Uni Soviet Bubar

Ini Kronologi Konflik Ukraina-Rusia Sejak Uni Soviet Bubar

Rusia, YukUpdate – Sejak merdeka, Ukraina hampir selalu berkonflik dengan Rusia yang mengklaim bahwa secara historis dua negara itu adalah satu bangsa.

Pada Kamis (24/2/2022) pagi, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan invasi ke Ukraina dan segera diikuti oleh tembakan rudal ke berbagai kota Ukraina dari wilayah perbatasan.

Ukraina dulunya adalah bagian dari Uni Soviet, tetapi federasi itu pecah berkeping-keping dan hanya menyisakan Rusia, wilayah terbesar yang menjadi pusat pemerintahan Uni Soviet.

Berikut kronologi sejarah politik Ukraina sejak lepas dari Moskwa pada 1991.

1991: Leonid Kravchuk, pemimpin Ukraina, menyatakan kemerdekaan dari Uni Soviet yang kemudian disahkan lewat referendum. Kravchuk kemudian terpilih sebagai presiden.

1994: Leonid Kuchma mengalahkan Kravchuk dalam pemilihan presiden yang dinilai terbuka dan adil.

1999: Kuchma terpilih lagi, tetapi pemilihan presiden ketika itu diwarnai banyak laporan kecurangan.

2004: Kandidat presiden Viktor Yanukovich yang sangat pro-Rusia terpilih sebagai presiden tetapi dia dituduh melakukan kecurangan dan memicu aksi demonstrasi massal yang disebut Revolusi Oranye. Revolusi itu berhasil mendorong dilakukannya pemilihan ulang dan muncul sebagai pemenang adalah Viktor Yushchenko.

2005: Yushchenko dilantik sebagai presiden dengan janji membawa Ukraina lepas dari bayang-bayang Kremlin dan mendekat ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) serta Uni Eropa. Dia menunjuk taipan perusahaan energi Yulia Tymoshenko sebagai perdana menteri, tetapi kemudian dipecat karena konflik internal.

2008: NATO berjanji suatu hari nanti Ukraina akan menjadi anggotanya.

2010: Yanukovich yang pro-Rusia mengalahkan Tymoshenko dalam pemilihan presiden. Rusia dan Ukraina menyepakati kerja sama pasokan dan harga gas alam dan sebagai balasannya keberadaan Angkatan Laut Rusia di pelabuhan Laut Hitam, Ukraina, diperpanjang.

2013: Pemerintahan Yanukovich menghentikan perundingan dagang dengan Uni Eropa pada November lalu memilih menghidupkan kembali kerja sama ekonomi dengan Moskwa. Tindakan itu kembali memicu aksi unjuk rasa meluas di Kiev.

2014: Unjuk rasa yang berkepanjangan di Kiev berakhir ricuh, lusinan demonstran tewas.

Februari 2014: Parlemen melakukan pemungutan suara dan memberhentikan Yanukovich, yang kemudian melarikan diri. Beberapa hari kemudian, sekelompok orang bersenjata menyerbu kantor parlemen di Semenajung Crimea, Ukraina, dan mengibarkan bendera Rusia.

15 Maret 2014: Moskwa menganeksasi Crimea lewat referendum di mana mayoritas warga setempat memilih bergabung dengan Federasi Rusia.

April 2014: Kelompok separatis pro-Rusia menyatakan kemerdekaan di Donbass, wilayah timur Ukraina. Pertempuran meletus secara sporadis di sana sampai sekarang.

Mei 2014: Pengusaha Petro Poroshenko terpilih sebagai presiden Ukraina dengan agenda pro-Barat.

Juli 2014: Sebuah rudal menjatuhkan pesawat sipil MH17 milik Malaysia yang sedang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur, menewaskan 298 orang di dalamnya. Penyidikan menemukan bukti bahwa rudal itu buatan Rusia, yang membantah keterlibatan.

2017: Ukraina dan UE menyetujui pasar bebas barang dan jasa, dan fasilitas bebas visa bagi warga Ukraina yang masuk ke negara-negara UE.

2019: Rusia marah setelah sebuah aliran gereja Ortodoks Ukraina mendapat pengakuan resmi dari pemerintah.

April 2019: Mantan aktor Volodymyr Zelenskiy mengalahkan Poroshenko dalam pemilihan presiden dengan janji memberantas korupsi dan mengakhiri perang di wilayah timur Ukraina. Partai Pelayan Rakyat yang dia pimpin juga menang dalam pemilihan parlemen.

Juli 2019: Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Zelenskiy untuk menyelidiki Joe Biden, rivalnya dalam pemilihan presiden AS, dan putra Biden, Hunter, atas dugaan kesepakatan bisnis di Ukraina. Pembicaraan ini membuat DPR AS berupaya memakzulkan Trump.

Januari 2021: Zelenskiy meminta Presiden Biden untuk membantu Ukraina bergabung dengan NATO.

Februari 2021: Pemerintahan Zelenskiy menerapkan sanksi pada Viktor Medvedchuk, pemimpin oposisi pro-Rusia.

Musim semi 2021: Rusia mulai mengerahkan pasukan di perbatasan Ukraina dengan dalih latihan militer.

Oktober 2021: Ukraina menggunakan drone buatan Turki, Bayraktar TB2, di wilayah timur dan memicu kemarahan Rusia.

Musim gugur 2021: Rusia kembali mengerahkan pasukan dekat Ukraina.

7 Desember 2021: Biden memperingatkan Rusia akan dikenakan sanksi ekonomi jika menginvasi Ukraina.

17 Desember: Rusia mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk jaminan bahwa NATO akan menghentikan aktivitas militer di Eropa timur dan Ukraina.

14 Januari 2022: Situs-situs pemerintah Ukraina diretas dengan ancaman bahwa warga Ukraina bakal ketakutan dan menghadapi situasi terburuk.

17 Januari: Pasukan Rusia mulai berdatangan di Belarusia di wilayah utara Ukraina untuk latihan militer gabungan.

24 Januari: NATO meningkatkan kesiagaan dan mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur di wilayah timur Eropa.

26 Januari: Washington memberi jawaban tertulis pada tuntutan Rusia, dan menegaskan bahwa NATO tetap menerapkan kebijakan pintu terbuka dan menawarkan “diskusi yang pragmatis” dengan Moskwa.

28 Januari: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tuntutan utama Rusia masih belum dipenuhi.

2 Februari: Amerika mengatakan akan mengirim 3.000 pasukan tambahan ke Polandia dan Rumania untuk membantu membentengi para anggota NATO dari dampak lanjutan krisis ini.

4 Februari: Putin mendapat dukungan dari Tiongkok atas tuntutannya agar Ukraina tidak diizinkan bergabung dengan NATO.

7 Februari: Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan upaya diplomasi dengan menemui Putin di Kremlin. Macron lalu berkunjung ke Kiev.

9 Februari: Biden mengatakan situasi bisa dengan cepat menjadi liar dan Kementerian Luar Negeri AS memerintahkan warganya di Ukraina untuk segera pergi. Imbauan itu diikuti oleh negara-negara lain.

14 Februari: Zelenskiy mendesak rakyat Ukraina untuk mengibarkan bendera nasional dan menyanyikan lagu Kebangsaan pada 16 Februari, hari yang oleh berbagai media disebut sebagai hari-H invasi Rusia.

15 Februari: Rusia mengklaim sebagian pasukannya kembali ke barak setelah latihan di dekat Ukraina dan meledek pernyataan-pernyataan media Barat yang mengkhawatirkan invasi dalam waktu dekat. Parlemen Rusia meminta Putin untuk mengakui kemerdekaan dua wilayah di Ukraina timur yang pro-Moskwa.

18 Februari: Duta Besar AS untuk Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa Michael Carpenter mengatakan Rusia mungkin telah mengerahkan 169.000-190.000 pasukan dekat Ukraina.BACA JUGA

19 Februari: Rusia melakukan latihan perang nuklir dengan dipimpin langsung oleh Putin.

21 Februari: Macron mengatakan Biden dan Putin telah setuju untuk bertemu membahas krisis di Ukraina.

Dalam pidato televisi, Putin mengatakan Ukraina adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah Rusia dan tidak punya sejarah sebagai negara mandiri. Ukraina dikelola oleh kekuatan asing dan rezim boneka, kata Putin. Dia juga meneken perjanjian untuk mengakui kemerdekaan dua wilayah yang melepaskan diri dari Ukraina dan memerintahkan pengiriman pasukan Rusia ke sana.

22 Februari: AS, Inggris dan para sekutu mereka mengesahkan sanksi terhadap para anggota parlemen Rusia, bank, dan aset-aset mereka. Jerman menghentikan perundingan proyek pasokan gas Nord Stream 2 dari Rusia yang masih dibahas.

Putin, dalam pidato televisi, menuntut Ukraina untuk melucuti militernya dan mengatakan Perjanjian Damai Minsk antar dua negara tidak berlaku lagi.

23 Februari: Para pemimpin separatis Ukraina minta bantuan Rusia untuk melawan “agresi” dari pasukan Ukraina.

24 Februari: Putin mengesahkan “operasi militer khusus” di wilayah timur Ukraina dan meminta Angkatan Bersenjata Ukraina untuk tidak melawan. Militer Rusia mulai menembakkan rudal dan serangan artileri ke pos-pos militer dan pangkalan udara Ukraina di sejumlah kota besar.

Sumber: Reuters

loading...
https://thebalidestiny.com/car

Check Also

10 Gaji Profesi Tertinggi di RI, Sebulan Bisa Beli Rumah

10 Gaji Profesi Tertinggi di RI, Sebulan Bisa Beli Rumah

Jakarta, YukUpdate – Gaji bulanan merupakan salah satu aspek penting yang dipertimbangkan seseorang ketika mendapatkan pekerjaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Eitss ga bole copas lho !!